{CERBUNG oleh Harapasa} Donal & Konci

AH, sudahlah! Donal berusaha menghilangkan dugaan-dugaan yang tiada guna dan sembarangan dimana justru kini dirinya menghadapi persoalan baru, yaitu kemungkinan paling buruk dirinya tengah diburu oleh pihak kepolisian karena dianggap satu komplotan dengan Leo,

Waduh, kini dirinya masih berada didalam mobil berduaan dengan perempuan yang dicari-cari keluarganya karena dianggap memilih kawin lari dengan Leo, tetapi bisa jadi mereka menyampaikan laporan ke pihak kepolisian adalah sebagai kasus penculikan?!

“Jadi, keluarga kamu udah bikin laporan ke polisi bahwa elu diculik?! Bukan sengaja kabur untuk dikawinin Leo?!” Saking penasaran dengan perkiraannya tadi itu, sehingga Donal lupa kalau harusnya mereka berdua cepat-cepat pergi meninggalkan TMII. Walau posisi mobil masih jauh dari gerbang masuk, ya lama-lama bisa curiga dong para petugas parkir yang mungkin sedari tadi sudah memperhatikan ke arah posisi mobil yang sama sekali tidak bergerak menuju pintu gerbang.

“Jangan banyak tanya! Dalam situasi begini, dan apalagi elu sendiri juga punya dugaan seperti itu. Maka ada baiknya kita pergi dari sini…. Udah, gue yang bawa neh mobil. Kita cari makan. Beli pakaian yang layak buat elu. Abis itu kita langsung ke Bogor, nemuin Tante gue. Orangnya baik, dan terpenting emang dia gak suka denger cerita tentang gue mau dijodohin, dikawinin. Dia maunya gue jadi akademisi seperti dia, jangan sampe kecepetan kawin,” cerita si perempuan terputus, karena serta merta si perempuan menancap gas kencang untuk segera pergi meninggalkan TMII.

“Aneh kan?! Menurut kamu bagaimana? Leo punya misi besar gitu, bukannya cari tempat sepi kalau kebelet kencing atau berak,” celetuk Donal malah mengingat kejadian bodoh yang membuatnya jadi pencuri sambil lalu juga jadi menganggap diri pahlawan yang membebaskan si perempuan dari sekapan si bangsat Leo,

Perempuan itu sekadar menyimak dengan senyum lega pada segala yang terucapkan oleh Donal, saking sekarang merasa dirinya aman bersama Donal.

Tetapi si perempuan terus menancap gas dengan kecepatan laju mobil yang semakin kencang. Mungkin saja, karena rasa lapar sudah telanjur menguasai sampai-sampai mengganggu kesehatan emosinya. (bersambung)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *