KBKM sebagai Tantangan Pemajuan Kebudayaan

Fokuskini – Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengungkapkan, bahwa kelestarian kawasan Candi Prambanan dan Candi Sewu merupakan wujud konkret toleransi antarumat beragama.

Hal tersebut menjadi indikator tingkat peradaban sebuah bangsa yang menjadi inspirasi untuk membangun masa depan Indonesia.

“Ini adalah cerminan dari toleransi, kerukunan, saling menghargai, saling menghormati perbedaan keyakinan,” disampaikan Mendikbud Muhadjir Effendy saat pembukaan Kemah Budaya Kaum Muda (KBKM 2019) yang berlangsung di Candi Prambanan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta hingga 25 Juli 2019.

“Itu merupakan simbol dari tingkat kebudayaan, tingkat keberadaban, dan keluhuran budaya nenek moyang kita,” imbuhnya.

KBKM diharapkan menjadi media interaksi kaum muda yang inklusif untuk berkolaborasi dalam menghadirkan solusi atas tantangan pemajuan kebudayaan, baik di wilayah masing-masing hingga nasional.

Muhadjir berharap agar para peserta selain berkompetisi, juga mampu berkolaborasi dan membangun jejaring kaum muda pegiat kebudayaan nasional. “Harapan saya, kalian akan punya pengalaman tak terlupakan dengan segala romantika dan sukacita. Bangun jaringan dari candi Prambanan ini menjadi gerakan yang melahirkan jaringan budaya,” ujar Mendikbud dalam keterangannya.

Rangkaian kegiatan bertujuan untuk menciptakan ruang inkubator yang mendorong lahirnya berbagai purwarupa (prototype), dan aktivasi inisiatif sosial yang memperkuat upaya pemajuan kebudayaan di berbagai daerah. Berbasis interaksi kreatif antara kaum muda sebagai garda-depan (avant-garde) pemajuan kebudayaan dengan menggunakan pendekatan terpadu di bidang STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts and Mathematics).

“Idenya itu membangun ekosistem. Harapannya ke depan, interaksi di antara stakeholders akan jalan terus dan (KBKM) ini menjadi platformnya. Ini akan menjadi forum setiap orang. Ini akan bergulir, dan semua orang nantinya dapat terlibat,” kata Direktur Jenderal Kebudayaan, Hilmar Farid.

Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X mendorong kaum muda menjadi pribadi inovatif dan profesional. Strategi kebudayaan yang telah dirumuskan pada Kongres Kebudayaan Indonesia tahun 2018 yang lalu, harus mampu mendorong bangsa Indonesia menuju peradaban maju.

“Bangsa yang memiliki strategi kebudayaan berarti memiliki pembimbing menuju peradaban maju. Sehingga mampu menjaga dan memperkuat kepribadian nasional, kontinuitas kebudayaan unggul dan kemampuan untuk mandiri sekaligus memperkuat kesatuan nasionalnya,” lanjut Sri Sultan Hamengku Buwono X.

Strategi kebudayaan, tambah Sultan, harus mampu menjadikan kebudayaan menjadi arus utama pembangunan. Serta memperkuat dimensi kepemimpinan, pendidikan, dan ekonomi. Khususnya, dalam menyongsong era industri 4.0 yang penuh dengan ketidakpastian.

Langkah pemajuan kebudayaan dengan pendekatan STEAM yang melibatkan kaum muda dipandang tepat oleh Sri Sultan. “Sudah, jangan terlalu banyak menoleh ke belakang. Kita songsong masa depan,” harap Sultan.

Tidak dapat dipungkiri bahwa teknologi menjadi salah satu penggerak di berbagai bidang kehidupan.

Kemah Budaya Kaum Muda merupakan platform kerja yang menghimpun kaum muda berusia 18-28 tahun untuk turut serta menjawab berbagai tantangan pemajuan kebudayaan dengan memanfaatkan sains (science), teknologi (technology), rekayasa (engineering), seni (art) dan matematika (mathematics). KBKM pertama ini mengambil tajuk “Kaum Muda Berkarya, Indonesia Bahagia.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *