Bobi Wine Diringkus, Usai Resmi sebagai Capres di Pemilu Uganda

Fokuskini – Pihak kepolisian Uganda kembali menangkap Bobi Wine, bintang pop dan calon presiden oposisi, tepat setelah dia berhasil disertifikasi sebagai kandidat dalam pemilihan tahun depan.

Wine, yang berharap untuk menggeser pemimpin lama Uganda, diseret keluar dari mobilnya oleh sejumlah polisi. Televisi lokal NBS, melaporkan dari tempat kejadian, mengatakan penyanyi yang bernama asli Robert Kyagulanyi Ssentamu, dimasukkan ke dalam mobil kepolisian ditengah bentrokan antara aparat polisi dan publik pendukung Bobi.

Juru bicara kepolisian tidak segera menanggapi pertanyaan wartawan. Pihak berwenang sering menuduh Wine melakukan aksi unjuk rasa yang dapat mengganggu ketertiban umum. Meski ia membantah dalam upaya pembelaannya.

Kaum kritikus mengatakan presiden Uganda, Yoweri Museveni, yang berkuasa sejak 1986, semakin bergantung pada angkatan bersenjata untuk menegaskan otoritasnya.

Museveni, yang dicalonkan sebagai calon pada hari Senin, mengatakan setelah itu bahwa pemerintah pimpinannya tidak akan mentoleransi aktivitas musuh yang merencanakan kekacauan.

“Tidak ada orang yang akan mengganggu disini. Siapapun yang mencoba akan menyesal. Karena bagi kami, kami tidak bermain=main,” kata sang Presiden. “[Partai yang berkuasa] berjuang untuk membawa perdamaian di negara ini. Tidak ada yang memiliki senjata lebih dari kita. Tapi kami tidak menakut-nakuti orang. “

Komisi pemilihan belum menetapkan kapan tanggal pemungutan suara. Namun, Wine (38), telah memikat imajinasi banyak orang Uganda dengan seruannya yang gigih agar Museveni yang berusia 76 tahun itu pensiun. Ia sangat populer di kalangan orang miskin di perkotaan.

“Kita sekarang memasuki fase paling kritis dari perjuangan pembebasan kita!” Wine melemparkan pernyataan di akun Twiter pribadi setelah pencalonannya disertifikasi.

Wine dan pemimpin oposisi lainnya telah sering ditangkap dalam beberapa tahun terakhir, terkadang ditahan di rumah mereka sendiri oleh kepolisian dengan alasan kebutuhan untuk mencegah kejahatan dilakukan.

Tindakan tersebut telah memperkuat pandangan di antara beberapa orang Uganda bahwa pihak kepolisian bertugas atas perintah Museveni, yang telah berulang kali menolak seruan untuk pensiun dengan damai.

Negara Afrika Timur ini tidak pernah menyaksikan peralihan kekuasaan secara damai sejak kemerdekaan dari pemerintahan kolonial Inggris pada tahun 1962. (TheGuardian.com/yay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *