Hari Film Nasional, Dilan, Keunikan Film Adaptasi Novel

FOKUSKINIHari Film Nasional tahun ini melaporkan catatan bergairah karena apa yang dikatakan oleh Kepala Pusat Pengembangan Perfilman Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Maman Wijaya yakni peredaran film layar lebar produksi dalam negeri di berbagai bioskop telah mampu menggeser tren perputaran film-film impor.

Meski masih menyoal pentingnya lagi masa tayang, Maman menyatakan produk film layar lebar nasional terbilang overload sampai sudah 146 judul, dibandingkan edar tayang film-film impor yang terus menerus turun hingga kini hanya 58 judul.

Harapannya, kerjasama Kemendikbud melalu Pusbangfilm yang dipimpinnya dengan Badan Ekonomi Kreatif ini nanti bisa mendukung penambahan jumlah layar bioskop sampai ke wilayah kabupaten dan kota bahkan kecamatan, lewat peraturan perizinan yang dipermudah termasuk di gedung-gedung pusat perbelanjaan dan hiburan ataupun mal di berbagai daerah Nusantara.


Kepala Pusbangfilm Maman Wijaya, paling kanan, bersama Dirjen Kebudayaan Hilmar Farid dan Ketua Umum Parfi 56, Marcella Zalianty (foto: Ibonk)

Menurut hitungannya, rata-rata jumlah penonton per judul film nasional kini mampu mencapai 287 ribu. “Dengan begini, hitungan kasar rata-rata film nasional semua mencapai titik break even point. Sudah mengalahkan pasar film India,” ungkap Maman.

Sisi memukaunya pula adalah rekor penonton Dilan 1991 yang padahal sengaja dimajukan seminggu dari jadwal semula, dan dengan gagahnya kemudian menghadapi Captain Marvel sekira awal Maret lalu. Justru sejauh ini hasilnya mencengangkan diatas 5 jutaan pemirsa, dengan kurang dari sepekan saja sudah menyedot sekira 3 juta warga yang sudah dibikin telanjur penasaran.


Ody Mulya Hidayat, kiri, dan Kerua Lembaga Sensor Film Ahmad Yani Basuki (foto: Ibonk)

Di sesi seminar perayaan Hari Film Nasional oleh penyelenggara Pusbangfilm Kemdikbud, Forum Wartawan Hiburan Indonesia (Forwan) didukung Lembaga Sensor Film (LSF), diakui produser Max Pictures Ody Mulya Hidayat bahwa pihaknya telah siap mengadaptasi novel-novel karya Pidi Baiq lainnya serta Tere Liye yang semua dihargai miliaran rupiah dan siap didanai berkongsi dengan Falcon Pictures.

Fenomena serupa ini, perjalinan bisnis industri film dengan novel-laris sampai dengan cerita asli berdasarkan kisah nyata, telah lumrah terjadi di jagat perfilman sampai dengan film-film box-office produksi Hollywood.

“Semua novel karya Mira W (sepertinya) sudah diambil rumah produksi Sinemart, sebagian sudah dijadikan film komersial dan sebagian lain mungkin sudah dibeli pihak perusahaan film lainnya,” kenang Dimas Supriyanto, wartawan senior desk perfilman yang hingga kini bertugas di surat kabar harian Pos Kota.

Menurutnya, menjadikan cerita buku setebal 900 halaman di proses adaptasi ke skenario film yang hanya hampir 120 halaman saja adalah tantangan kreatifitas yang sulit karena wajib tanpa menghilangkan esensi cerita asli.

Cintaku di Kampus Biru, itu novelnya bagus tapi difilmkan jadi jelek. Bahkan karya tetralogi Ashadi Siregar ketika difilmkan tidak bagus meskipun membuat artis-artis pemerannya jadi terkenal, seperti Cok Simbara, Lenny Marlina dan Yenny Rachman,” ungkap Dimas. (jos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *