“Konser OrkeXTra 100 Pecandu”: Para Mantan Pemakai Narkoba Ingin Lebih Baik

Fokuskini – Konser OrkeXTra 100 Pecandu adalah pertunjukan musik patut diapresiasi yang siap digelar di Hotel Grand Kemang hari Selasa (28/1/2020), karena mereka telah mengalami pemulihan dari kecanduan narkoba melalui rehab, kemudian memilih bermusik dan bernyanyi untuk menjadi lebih baik. “Biar bagaimanapun, bakat dari Tuhan sudah ada dari sejak lahir, dan kami kembalikan setelah rehab karena otak yang berhubungan dengan kecerdasan bakat tidak bakal rusak selalu dijaga oleh Allah termasuk bakat olahraga, berkebun dan peternakan,” komentar dr Aisyah Dahlan, pencetus berdirinya Yayasan Sahabat Rekan Sebaya sebagai wadah pemulihan para korban pemakaian narkoba.

Pesannya, pulih berarti tidak pake sama sekali tapi tetap hati-hati jangan biarkan mereka pergi sendirian tanpa rekan-rekan komunitas karena bisa langsung didatengin bandar lagi. “Maka itulah tepatnya pemulihan bukan penyembuhan, karena memori otak depan manusia selalu kembali inget dan termotivasi saat senang, sedih, marah, kesal dengan obat-obatan adiktif,” lanjut keterangan dr Aisyah menyambut berlangsungnya Konser OrkeXTra 100 Pecandu bersama komunitas Cukup Gue dipromotori Deteksi Production.

Pada kesempatan itu, dr Aisyah ikut menyinggung upaya sepihak yang ingin melegalkan pemakaian ganja. Menurut dia, sampai saat ini ganja belum tepat untuk dilegalkan karena ganja memiliki zat luar biasa multiple addictions. “Ada stimulan, depresan, halusinasi. Di Belanda, biar (ganja) sudah dilegalkan tetapi BNN mereka yang sudah berusia 100 tahun tetap selalu mengadakan penyuluhan dan sosialisasi sampai dengan kepada anak-anak kecil yang efektivitasnya menimbulkan pemahaman ganja untuk epilepsi dan kanker stadium lanjut. Sementara kita belum bisa memilah segi buruk baiknya, apalagi bahaya ganja juga mengancam bila pemakainya ada keturunan sakit jiwa, dan kalaupun tidak, ganja bis bikin orang jadi loyo, berhalusinasi, mudah putus asa,” ujar Bu Dokter yang pernah menangani rehab detoksinasi massal kepada para Slankers pecandu narkoba, dan sempat menemani periode pemulihan penyembuhan Bimbim “Slank”.

Sekarang ini setelah kampanye anti narkoba sudah masuk kurikulum di sekolah-sekolah, korban siswa memang menurun namun yang meningkat sekarang malah pemakai usia kerja. “Punya uang lebih dan memakai zat adiktif terlarang untuk menstimulasi semangat kerja, karena mereka ngarep ada obat atau vitamin yang bisa bikin tiga hari tiga malem melek, termasuk ini problema artis yang kerjanya setengah mati,” papar dr Aisyah.

Narkotika sabu itu mudah dibuat, keluhnya, obat-obatan penyembuhan seperti untuk sesak napas, pilek kalo sudah expired tolong tidak dibuang sembarangan karena bisa disalahgunakan, dikumpulkan para bandar kecil kemudian dicampur beberapa bahan kimia dimasukkan di freezer, jadilah sabu. “Jadi obat-obat yang sudah expired, buka kemasannya dan dihancurkan itu sudah sangat membantu (pemberantasan narkoba),” harapnya. (yay)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *