Pengusaha Garmen Italia Keluhkan Penajaman Sanksi Uni Eropa Atas Rusia

Fokuskini – Tumpukan kotak kemasan bermuatan pakaian rajutan first-class Italia yang ditujukan kepada para pengecer di Moskow, St. Petersburg, dan Kursk kini di masih berada gudang di Lombardy menunggu pengiriman. Meskipun tidak dikenakan sanksi untuk menghukum Rusia karena menyerang Ukraina, garmen menumpuk tersebut kemungkinan besar tidak akan dikirim dalam waktu dekat.

Pembayaran yang macet dari kalangan pengecer di Rusia selaku pemesan karena pembatasan yang terkait dengan sektor perbankan, diberitakan Associated Press, telah memberi tekanan pada produsen mode usaha kecil seperti D. Exterior, perusahaan pakaian rajut high-end dengan 50 pekerja di kota utara Brescia.

“Ini sangat menyakitkan. Saya memiliki barang dagangan senilai 2 juta euro di gudang, dan jika mereka tidak dapat membayarnya, saya akan berlutut,” kata pemilik D. Exterior Nadia Zanola, merek yang didirikannya pada 1997 dari perusahaan garmen rajutan peninggalan orang tuanya pada tahun 1952.

Italia adalah produsen barang mewah global terbesar di dunia, menghasilkan 40% dari pakaian, alas kaki, dan aksesori kelas atas. Sementara Rusia menghasilkan hanya sekitar 3% dari pendapatan tahunan produk mewah Italia senilai 97 miliar euro (USD 101 miliar), itu adalah bagian bisnis yang signifikan bagi beberapa dari 80.000 perusahaan kecil dan menengah yang menjadi tulang punggung mode Italia, menurut kalangan dunia industri. .

“Kami berbicara tentang menghilangkan 80% hingga 100% pendapatan untuk perusahaan-perusahaan ini,” kata Fabio Pietrella, presiden federasi pengrajin mode Confartigianato.

Distrik yang memproduksi alas kaki di wilayah Marche dan Veneto, dan pembuat pakaian rajut di Umbria dan Emilia-Romagna telah banyak tumbuh dan sangat bergantung pada Rusia.

“Ini adalah distrik yang menghubungkan rantai pasokan, dan jika terputus, tidak hanya perusahaan yang tutup yang dirugikan, tetapi seluruh sistem yang membantu menjadikan negara ini sebagai pembangkit tenaga ekonomi,” kata Pietrella.

Dunia mode Italia terkenal dengan rumah fashion serbamewah seperti Gucci, Versace dan Armani, yang mengenalkan koleksi pakaian pria terbaru mereka di Milan minggu ini. Beberapa nama besar lainnya muncul dalam daftar yang disusun oleh profesor Universitas Yale Jeffrey Sonnenberg tentang perusahaan-perusahaan besar yang berbisnis di Rusia sejak perang di Ukraina dimulai.

“Ada perusahaan yang terus menjual ke Nazi Jerman setelah pecahnya Perang Dunia II,” kenang Sonnenberg, dan kemudian menyebut sebagai rakus setiap perusahaan yang terus melakukan bisnis di Rusia hari ini.

Dia juga menggarisbawahi bahwa perusahaan mode tidak memiliki alasan untuk membuat seruan kemanusiaan untuk memotong sanksi, sukarela atau sebaliknya, seperti yang terjadi pada perusahaan pertanian dan perusahaan farmasi.

Di antara mereka yang dimaksud Sonnenberg adalah Benetton dari Italia, yang dalam sebuah pernyataan mengutuk perang tetapi mengatakan akan melanjutkan kegiatan komersialnya di Rusia, termasuk kemitraan komersial dan logistik yang sudah berlangsung lama dan jaringan toko yang menopang 600 keluarga.

Konglomerat asal Prancis LVMH, sementara itu telah menutup sementara 124 toko di Rusia, sambil terus membayar gaji 3.500 karyawannya di Rusia. Grup Spanyol Inditex, yang memiliki Zara, juga menutup sementara 502 toko di Rusia serta penjualan online.

Pietrella khawatir akan ada semacam fobia Rusia yang menjelek-jelekkan pemilik bisnis karena berusaha menjaga hubungan dengan visi jangka panjang.

Sanksi dari negara-negara Uni Eropa terhadap Rusia dipertajam setelah invasi ke Ukraina, menetapkan maksimum grosir 300 euro untuk setiap barang yang dikirim, mengeluarkan barang-barang super-mewah dari peredaran tetapi masih menargetkan kelas menengah ke atas atau orang kaya Rusia.

“Tanpa ragu, kami sebagai federasi mode telah menyatakan keprihatinan kami yang ekstrim atas agresi di Ukraina,” kata Pietrella. “Dari sudut pandang etika, itu di luar diskusi. Tapi kita harus memikirkan perusahaan kita. Etika adalah satu hal. Pasar adalah hal lain. Pekerja di sebuah perusahaan dibayar oleh pasar, bukan oleh etika.”

Dia mengatakan batas 300 euro pada penjualan adalah langkah awal oleh politisi Eropa yang di atas kertas memungkinkan perdagangan dengan Rusia meskipun disertai rintangan birokrasi dan keuangan, sementara juga melindungi pemerintah dari keharusan memberikan dana talangan kepada industri. Dia juga menolak saran pemerintah yang terlalu mudah untuk mencari pasar alternatif ke Rusia.

“Jika ada pasar lain, kami sudah ada di sana,” kata Pietrella.

Di D. Exterior, eksposur ke Rusia tumbuh secara bertahap selama bertahun-tahun hingga kini mewakili 35% hingga 40% dari pendapatan yang mencapai 22 juta euro sebelum pandemi, aliran yang juga berada di bawah tekanan baru dari biaya energi dan bahan baku yang lebih tinggi.

Perusahaan tersebut sudah mengirimkan koleksi musim panasnya dan menerima pesanan untuk musim dingin ketika Rusia mulai menyerbu Ukraina pada 24 Februari. Pada bulan Maret, pihak pengecer di Rusia mengalami kesulitan melakukan pembayaran.

Zanola tidak hanya terjebak dengan sekitar 4.000 pakaian musim semi dan musim panas sehingga dia memiliki sedikit harapan untuk dikirim ke klien Rusia. Dia mengatakan bahwa pihaknya secara kontrak diharuskan untuk terus memproduksi pesanan musim dingin, mempertaruhkan 100.000 euro dalam biaya tenaga kerja dan bahan jika mereka tidak dapat mengirim. .

Selama bertahun-tahun, klien Rusia telah terbukti menjadi pelanggan ideal, kata Zanola. Mereka tidak hanya membayar tepat waktu, tetapi juga mengapresiasi pengerjaan kreasi pakaian rajut D. Exterior.

Setelah bekerja sangat keras untuk membangun basis pelanggan Rusia, dia enggan untuk menyerah dan tidak melihat pengganti jangka panjang yang cepat. “Jika Rusia adalah Putin, saya tidak akan pergi ke sana. Tapi karena Rusia bukan hanya Putin, (tetap) ada sekadar harapan orang-orang Rusia yang malang itu bisa segera bangkit,″ harapnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *