Target “Net Zero Emissions” di Tahun 2060

Fokuskini – Meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Riau berkapasitas 275 megawatt (MW) di Kawasan Industri Tenayan, Pekanbaru, Riau — Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyatakan, untuk meningkatkan kapasitas listrik nasional dapat diisi dengan pembangkit listrik berbasis gas yang lebih ramah lingkungan sebelum pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) masuk dalam sistem kelistrikan nasional.

“Kita harapkan dalam masa transisi ini, atau sebelum pembangkit energi bersih terbarukan masuk, bisa diisi dulu dengan memanfaatkan gas. Emisi yang dikeluarkan dari PLTGU ini lebih rendah jika dibandingkan dengan yang memakai batubara, kurang lebih setengahnya,” ujar Menteri ESDM, jelang akhir pekan ini.

Membangun pembangkit yang ramah lingkungan merupakan wujud komitmen Indonesia terhadap energi bersih kepada dunia internasional dengan target Net Zero Emissions pada tahun 2060.

“Indonesia akan berupaya mencapai target Net Zero Emissions ditahun 2060, yang artinya akan ada 1,5 Giga Ton CO2 yang harus kita lenyapkan dengan berbagai macam cara, salah satunya dengan pemanfaatan energi baru terbarukan yang kita ketahui semua. Kita memiliki sumber energi baru terbarukan yang bersih cukup besar dengan potensi yang mencapai ribuan gigawatt, dan kita baru memanfaatkannya sedikit saat ini,” jelas Arifin.

Selain potensi energi terbarukan yang besar, Indonesia juga saat ini masih memiliki gas yang potensinya cukup besar yang perlu diupayakan pemanfaatannya sebagai transisi energi dari fosil ke energi terbarukan. “Gas ini komoditas yang penting terutama untuk mendukung proses transisi energi, dari energi fosil berat menuju ke medium kemudian ke zero,” lanjut Arifin.

Selain energi bersih, saat ini yang menjadi tantangan adalah bagaimana menghasilkan energi murah, selain terjangkau oleh masyarakat juga dapat mendorong investor menanamkan investasinya di Indonesia.

“Yang sangat penting lagi saat ini, kita harus bisa mengupayakan bagaimana energi ini bisa murah, listrik ini bisa murah selain untuk kepentingan masyarakat juga untuk kepentingan industri. karena dengan competitiveness-nya harga energi ini akan memberikan dorongan investasi untuk bisa masuk ke dalam negeri. Untuk itu, kita jangan melupakan efisiensi pengoperasian unit-unit pembangkit listrik kita,” sambung Arifin.

Direktur Utama PT PLN (Persero) Darmawan Prasodjo menyatakan, transisi energi ini akan sulit berjalan tanpa dukungan pihak pemerintah, namun sebaliknya dengan dukungan dari pihak pemerintah menjadi lebih kokoh.

Terkait dengan pembangunan pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan, PLN akan melaksanakan pembangunannya sesuai dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) yang ada dengan meningkatkan komposisi pembangkit EBT 51,6% dengan mengurangi porsi pembangkit batubara yang mengeluarkan emisi besar.

Darmawan menegaskan, untuk meningkatkan kapasitas listrik nasional diperlukan investasi dan teknologi. PLN tidak mungkin menanggung itu semua, karena itu diperlukan kolaborasi dengan produsen listrik swasta (Independent Power Producer/IPP) seperti PLTGU Riau.

“Pengoperasian PLTGU Riau 275 MW yang masuk dalam proyek 35 ribu MW ini menjadi bukti keberhasilan kolaborasi strategis antara PLN dengan produsen listrik swasta dalam penyediaan listrik nasional. Ini merupakan hari bersejarah, di mana kita semua dalam proses tiga tahun ini telah bersama-sama dan berkolaborasi hingga pembangunan PLTGU telah berhasil dituntaskan dan kini bisa beroperasi,” ujar Darmawan.

Selain dapat melistriki 340 ribu pelanggan rumahtangga dengan daya 900 VA, hadirnya PLGTU ini juga diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat setempat serta menjadi titik awal untuk mengoptimalkan potensi daerah.

“PLTGU ini beroperasi, tentu listrik semakin andal dan berkualitas. Itu artinya PLN semakin siap menyambut masuknya investor dan siap memenuhi peningkatan konsumsi listrik masyarakat ke depan,” terangnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *