Utamakan Pasar Alat Kesehatan Buatan Dalam Negeri!

Fokuskini – Sekira ribuan karyawan pabrik PT Sri Tita Medika sebagai produsen alat kesehatan lokal termasuk alat swab antigen, kemarin melakukan aksi demo di depan pagar halaman tempat kerja mereka.

Para karyawan menyuarakan aspirasi terkait kesejahteraan kerja mereka yang semakin menurun, atau bahkan banyak dari mereka terpaksa dirumahkan menyusul kondisi perusahaan yang terus merugi akibat kurangnya pendistribusian alat kesehatan yang sudah diproduksi.

Hal itu terjadi karena masih maraknya alat swab antigen impor di pasaran. 

“Kami mohon kepada pihak manajemen perusahaan untuk memperhatikan nasib kami kedepannya, dan juga teman-teman kami yang sudah dirumahkan. Selain itu, Kami juga menghimbau pihak-pihak terkait, terutama kepada Bapak Presiden Joko Widodo untuk membantu dan memperhatikan nasib kami sekarang ini agar menjadi lebih baik dengan lebih mengutamakan produksi alat kesehatan dalam negeri ketimbang alat kesehatan impor,” kata Owi Indra mewakili para karyawan PT Sri Tita Medika.

Di lain sisi, pihak manajemen PT Sri Tita Medika tidak memungkiri kalau kondisi perusahaan memang sedang terpuruk menyusul susahnya pendistribusian alat kesehatan berupa alat swab antigen, karena masih banyaknya barang impor yang tersebar di pasaran.

Oleh karenanya, pihak PT Sri Tita Medika juga menyampaikan dan menghimbau pihak pemerintah khususnya Presiden Jokowi untuk menyetop masuknya produk impor dan lebih mengutamakan alat kesehatan produksi dalam negeri.

Hal ini perlu disampaikan oleh General Manager PT Sri Tita Medika Heru Purnomo, karena dirinya menemukan di beberapa perusahaan di bawah BUMN seperti KAI, masih menggunakan alat swab antigen impor.

“Saya memohon kepada Bapak Presiden Joko Widodo untuk meperhatikan dan memberikan instruksi kepada yang di bawah untuk mematuhi peraturan terkait penggunaan produk dalam negeri yang tertuang dalam Kepres nomor 12/2021 dan nomor 15/2021. Hal ini perlu dilakukan agar penggunaan produk-produk lokal bisa lebih diperhatikan lagi, dan dijalani di lapangan,” lanjut Heru Purnomo.

Heru menambahkan, untuk produk lokal sendiri sekarang ini sebetulnya sudah sanggup memenuhi kebutuhan alat swab antigen dalam negeri.

Menurut Heru, PT Sri Tita Medika bahkan bisa memenuhi kebutuhan alat swab antigen nasional sebanyak 25 juta per bulan.

Namun karena kurangnya penggunaan alat swab dalam negeri, bahkan lebih mengutamakan produk impor maka dalam beberapa bulan terakhir pihak perusahaan PT Sri Tita Medika harus memangkas gaji  dan juga jumlah karyawan. 

“Kita tidak butuh subsidi dari pihak pemerintah karena kami masih sanggup membiayqi produksi yang dibutuhkan. Namun yang kami butuhkan sekarang adalah pasar yang adil bagi kami dalam mendistribusikan alat swab antigen yang kami produksi. Makanya, apabila tidak adanya pasar yang adil dalam mendistribusikan produk kami, maka masalah itu akan berbuntut pada kesejahteraan karyawan, karena mau tidak mau kami harus memangkas gaji dan merumahkan beberapa karyawan karena kondisi finansial perusahaan perlu diselamatkan,” keluh Heru.

Heru juga menegaskan bahwa regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah Indonesia sebetulnya sudah baik. Namun memang dalam pelaksanaannya di lapangan, tidak sesuai dengan regulasi yang telah dibuat dan diarahkan.

“Harapan kami, semoga regulasi yang telah ditentukan bisa berjalan dengan semestinya agar produk buatan dalam negeri bisa diutamakan dan digunakan,” tegas Heru. (jos)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *