Waspadalah, Korban DBD Masih Terus Bertambah

Fokuskini – Puncak kasus DBD (demam berdarah dengue)  yang biasanya terjadi pada setiap tahunnya di bulan Maret, namun tahun ini justru berbeda dengan penambahan kasus masih terjadi cukup banyak hingga bulan Juni. ”Kita melihat sampai saat ini kita masih menemukan kasus antara 100 sampai 500 kasus perhari (dari 10 Januari 19 Juni 2020). Kita melihat jumlah kasus ada 68 ribuan kasus DBD di seluruh Indonesia,” ungkap Direktur Pencegahan dan Pengendalian Tular Vektor dan Zoonotik dr Siti Nadia Tarmizi dalam keterangannya awal pekan ini.

Terlebih, tambahnya, wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus penularan Covid-19 yang tinggi seperti di wilayah Jawa Barat, Lampung, Nusa Tenggara Timur, Jawa Timur, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, dan Sulawesi Selatan.

Di sisi lain, tambah dr Nadia, juga kita melihat bahwa penularan DBD ini juga menimbulkan angka kematian yang sudah mencapai angka 346, dan itu terjadi di beberapa wilayah dengan kasus Covid-19 yang tinggi.

”Fenomena ini memungkinkan seseorang yang terinfeksi Covid-19 juga berisiko terinfeksi DBD. Pada prinsipnya sama, DBD adalah penyakit yang vaksinnya belum terlalu efektif dan salah satu upaya untuk mencegahnya adalah menghindari gigitan nyamuk,” paparnya.

Ahli Infeksi dan Pediatri Tropis RS Dr Cipto Mengunkusumo, dr Mulya Rahma Karyanti Sp.A mengatakan pasien yang terjangkit virus DBD biasanya mengalami keluhan demam tinggi mendadak, dan kadang disertai muka merah, nyeri kepala, nyeri di bagian belakang mata, kerapkali muntah, berbintik merah pada kulit, dan biasanya disertai pendarahan spontan seperti mimisan dan gusi berdarah.

Jika keluhan demam tinggi tidak turun di hari ke-3, itu adalah tanda bahaya yang harus diwaspadai. ”Yang kita takuti di hari ke-3 ini yang kita sebut fase kritis, karena di hari itu biasanya terjadi kebocoran di pembuluh darah. Kalau pembuluh darah bocor, cairan akan keluar, dan pasti aliran darah ke otak akan terhambat. Efeknya pasien akan lemas, tidur seharian, makan dan minum sulit, ditambah dengan dehidrasi dan buang air kecil kurang dari 4-6 jam,” ujar dr Rahma. Itu tanda-tanda yang harus diwaspadai oleh orangtua jika terjadi tanda bahaya tersebut, dan anaknya harus segera dibawa ke rumah sakit.

Nyamuk aedes aegypti memiliki khas warna hitam putih pada bagian ekornya. dr Rahma mengingatkan, nyamuk tersebut biasa mengigit pada pagi hari antara pukul 10-12 dan sore hari sebelum magrib pukul 16-17.

Dr Nadia menambahkan, pencegahan penularan DBD harus dilakukan dengan pemberantasan sarang nyamuk secara 3M+ yakni Menutup, Menguras, Mendaur Ulang dan plusnya benyak sekali seperti menggunakan lotion anti nyamuk, menutup jendela rumah dengan kasa nyamuk, dan tidak sembarang menggantungkan pakaian.

”Kami mengimbau masyarakat cegah dengue mulai dari rumah kita dan menerapkan protokol kesehatan cegah penularan Covid-19. Dengan itu kita bisa terhindar dari DBD dan Covid-19,” imbuhnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *