Sederet Seniman masih Pamer Karya di Galeri Salihara

Fit Afiat Galeri Seni LEISURE TIME MOMENTUM Podium Reka Gaya Saring Sepekan

Fokuskini – Bagi kebanyakan orang, internet mungkin saja telah menjadi kebutuhan yang mengisi celah antara kebutuhan primer dan sekunder. Pada kenyataannya, manusia tentu bisa hidup tanpa internet. Terlepas dari persoalan sebaran akses internet, ditambah dengan ragam kekuatan jaringan yang bergantung pada penyedia dan titik akses, secara global internet telah memicu banyak kemungkinan dan potensi baru di berbagai bidang.

Pemanfaatan teknologi internet menuntut manusia untuk memahami waktu dan tempat secara berbeda. Ada yang harus dibagi, waktu dan tempat di dunia nyata sekaligus di dunia maya. Apa efek samping dari alokasi ‘bergantian’ aktivitas di dunia fisik dan dunia maya? Potensi terkikisnya waktu berhenti atau waktu jeda adalah salah satunya. Apa yang dimaknai sebagai ‘waktu luang’ di dunia nyata, kini ‘diisi’ oleh ramainya dunia virtual. Secara tidak langsung, manusia telah mengganti waktu rehatnya dengan interaksi virtual. Selain ketika tiba waktu tidur, apakah manusia masih mampu beristirahat di putaran 24 jam?

Tidak hanya memengaruhi kesadaran ruang dan alokasi waktu manusia setiap hari, pemanfaatan teknologi internet juga menapakkan jejaknya terhadap lingkungan berupa jejak karbon. Pemanfaatan yang cenderung eksesif jelas meningkatkan produksi jejak karbon. Internet bermanfaat secara global, tetapi juga memunculkan permasalahan yang berskala global. Meningkatnya suhu bumi, cuaca ekstrim dan bencana alam, perubahan produksi rantai makanan, hingga penyebaran penyakit merupakan bentuk-bentuk konsekuensi yang tentunya harus dicermati.

Berdasarkan pada dua isu utama di atas, Universal Iteration mengajukan tema Intermissions sebagai titik tolak eksplorasi artistik dalam karya-karya berbasis internet. Universal Iteration edisi tahun 2022 melibatkan enam seniman yang merespons tema Intermissions. Aki Onda, Eldwin Pradipta, Indah Arsyad, Rizki Lazuardi, XXLab, dan Yovista Ahtajida menyajikan spektrum pemahaman dan eksplorasi yang mengitari isu-isu terluar dari teknologi internet. Universal Iteration: Intermissions mencakup beberapa upaya artistik yang mengetengahkan penelusuran tingkat pencemaran sungai di suatu daerah, kepedulian terhadap jejak karbon melalui kampanye hapus data-menanam pohon, ramainya akses film populer melalui website bajakan, manusia dan non-manusia yang saling berkejaran dalam lingkup verifikasi akses informasi dan pencarian ilmu agama, hingga renungan bencana dalam bentuk performatif.

Secara umum mengutip tulisan kurator Bob Edrian , Universal Iteration: Intermissions hingga 28 Mei nanti menawarkan alternatif pemikiran dan interaksi terhadap ragam dampak yang ditimbulkan oleh teknologi internet. Pemikiran dan interaksi yang mustahil dilakukan jika kita tidak bisa menjaga jarak dengan layar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

+ twenty = 22