Asa Maroko Ikut Dipercaya Jadi Tuan Rumah Piala Dunia FIFA 2030

Podium TakTik

Fokuskini – Maroko memperoleh kehormatan dianugerahi jadi tuan rumah putaran final Piala Afrika 2025 (African Cup of Nations, AFCON), menggantikan Guinea yang dicabut haknya sejak tahun lalu, sementara untuk tahun 2027 tempat penyelenggaraan diserahkan kepada tiga negara yaitu Kenya, Tanzania dan Uganda.

Maroko menang secara default setelah Aljazair, Zambia dan tim negara gabungan Benin dan Nigeria semuanya mengundurkan diri sebelum pemungutan suara komite eksekutif Konfederasi Sepak Bola Afrika di Kairo, Mesir pada hari Rabu tadi (27/9/2023).

Negara di Afrika Utara ini menjadi favorit, dan akan melihat apakah keputusan menyenangkan tersebut bisa sebagai peningkatan harapan Maroko untuk menjadi tuan rumah bersama di Piala Dunia 2030 dengan Portugal dan Spanyol.

Namun, kemenangan upaya gabungan negara Afrika Timur untuk penyelenggaraan Piala Afrika tahun 2027 merupakan kejutan.

Kenya sebelumnya pernah diputuskan menjadi tuan rumah pada tahun 1996, namun dicabut karena tahap persiapan yang buruk, dan negara ini baru saja lepas dari larangan panjang FIFA yang diberlakukan karena campur tangan pihak pemerintah dalam menjalankan federasi sepakbola mereka.

“Turnamen ini harus disebarkan ke seluruh wilayah, dan berkontribusi terhadap perkembangan sepakbola,” kata presiden CAF, Patrice Motsepe dikutip dari The Arab Weekly.

Pelaksanaan turnamen Piala Afrika di tahun 2025 akan menjadi kedua kalinya bagi Maroko sebagai tuan rumah cabang olahraga paling populer di Afrika, atau hampir empat dekade setelah sebelumnya dilangsungkan di Maroko pada tahun 1988.

Maroko seharusnya menjadi tuan rumah putaran final Piala Afrika 2015, namun menarik diri di tengah kekhawatiran penyebaran virus Ebola di Afrika Barat.

Sejak itu, mereka mulai rutin melakukan upaya diplomasi yang agresif di seluruh benua, menggunakan sepakbola untuk mengembangkan konektifitas. Negara ini telah menjadi tuan rumah berbagai acara CAF di level kelompok perempuan dan usia, dan juga mengizinkan banyak negara Afrika yang terkena larangan menjadi tuan rumah pertandingan internasional karena kondisi lapangan atau stadion yang buruk untuk menggunakan stadion di Maroko.

Ketika Maroko terakhir kali menjadi tuan rumah Piala Afrika, turnamen tersebut hanya merupakan pertandingan delapan tim nasional yang dimainkan di dua lokasi saja, Casablanca dan Rabat.

Untuk tahun 2025 nanti mereka mengusulkan penggunaan enam stadion yaitu di Agadir, Casablanca, Fes, Marrakesh, Rabat dan Tanger.

Beberapa negara yang ditunjuk jadi tuan rumah Piala Afrika memiliki sejarah buruk dalam satu dekade terakhir, dimulai dengan Afrika Selatan menggantikan Libya yang dilanda perang pada tahun 2013.

Guinea yang sudah dianugerahi hak untuk menjadi tuan rumah putaran final tahun 2023, namun keputusannya telah dicabut dari tahun lalu.

Kamerun pernah dinyatakan belum siap untuk putaran final 2019, sehingga Mesir turun tangan. Kamerun kemudian menjadi tuan rumah putaran final 2021 yang tertunda satu tahun karena pandemi Covid-19.

Pantai Gading seharusnya menjadi tuan rumah di tahun 2023 dengan jadwal pembukaan pada bulan Juni lalu, tetapi ditunda sampai 13 Januari tahun depan karena kekhawatiran musim hujan di Afrika Barat. (dari berbagai sumber)

foto: Reuters

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

− two = seven